15 Bangunan Peninggalan Kesultanan Aceh

 1.     Masjid raya Baiturrahman
bentuk awal masjid raya baiturrahman 
sebelum dibakar belanda
Masjid Raya Baiturrahman pada masa kesultanan aceh berfungsi sebagai tempat ibadah dan sarana pendidikan. Masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda pada sekitar tahun 1612 Masehi ini terletak di pusat Kota Banda Aceh. Ketika agresi militer Belanda II, masjid ini pernah dibakar. Tetapi pada selang 4 tahun setelahnya, Belanda membangunnya kembali untuk meredam amarah rakyat Aceh yang akan berperang merebut syahid.

 



2.Masjid Tuha Indrapuri

  Bangunan yang didirikan pada abad ke-12 dan berfungsi sebagai candi sebelum dirubah menjadi masjid pada masa Sultan Iskandar Muda yang berkuasa dari tahun 1607-1637 Masehi.
     3. Benteng Inong Balee
   Benteng  Inong Balee berada di desa lamreh kecamatan mesjid raya, kabupaten aceh besar. Adapun benteng ini dibangun pada akhir abad ke 16 oleh laksamana Malahayati. Pernah terjadi pertempuran besar di mana pasukan Portugis dipimpin Cornelis de Houtman menggempur pertahanan pasukan Kerajaan Aceh di Benteng Inoeng Balee. Namun serangan itu berhasil dipatahkan, dan bahkan Cornelis de Houtman harus kehilangan nyawananya.

Benteng Inong Balee
Baca Juga :
10 Usaha Sangat Potensial di Banda Aceh
10 karakter Khas Orang Aceh yang Perlu kamu Ketahui
10 Karakter Orang Turki yang Perlu kamu ketahui
4.
 Benteng Iskandar Muda

Benteng Iskandar Muda berada di desa Brandeh Krueng Raya kabupaten aceh besar dibangun pada abad ke 17. Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh diperkuat dengan benteng-benteng pertahanan di sepanjang pantai Selat Malaka.Benteng ini dibangun pada Abad 16 oleh Sultan Iskandar Muda untuk melindungi wilayah kekuasaannya dari serangan Belanda dan Portugis.
Benteng Iskandar Muda (dari bekas Kuil Hindu/Budha Indraparta)
  5. Benteng Kuta Lubok
Benteng Kuta Lubok berada di desa lamreh kecamatan mesjid raya, kabupaten aceh besar. Adapun benteng ini dibangun pada akhir abad ke 12 . Benteng Kuta Lubok adalah salah satu situs paling penting dalam perjalanan sejarah Aceh dan dunia Melayu. “Selama ini banyak hipotesis (dugaan awal) bahwa benteng ini adalah peninggalan Portugis, ada juga hipotesis benteng Kerajaan Aceh Darussalam, tapi ada juga yang meyakini benteng ini adalah benteng tertua yang didirikan pada masa Kerajaan Lamuri (diyakini sebagai Lamreh sekarang) yang merupakan kerajaan tertua di Aceh,” 
Benteng Kuta Lubuk
 6. Taman sari/Bustanus Salatin 
Bustanus Salatin adalah salah satu bangunan bersejarah di kota Banda Aceh. Bangunan ini sendiri telah ada selama periode kesultanan Aceh sekitar tahun 1514, sebelum nya taman sari (Bustanus Salatin) dinamakan taman Ghairah yang mana merupakan taman istana dimana keluarga kerajaan bermain. )

Potret Taman sari saat ini
7.Gunongan dan Taman Putroe Phang
Taman ini dibangun pada saat pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636. Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Pahang serta Kerajaan Johor di Semenanjung Malaka. Sultan Iskandar Muda jatuh cinta pada Putri Boyongan dari Pahang karena akhlakhnya yang sangat mempesona serta cantik parasnya, sampai pada akhirnya menjadikannya sebagai permaisuri. Karena cintanya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia untuk memenuhi keinginan Putri Boyongan untuk membangun sebuah taman sari yang indah yang dilengkapi dengan Gunongan.

Gunongan Putroe Phang
8.  Pintu khop
Pinto Khop berada di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturahman, Kota Banda Aceh. Tempat ini adalah sejarah Aceh jaman dulu yang dibangun pada saat pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Selain itu, tempat ini juga adalah pintu penghubung antara istana serta taman putroe phang. Pinto khop ini merupakan pintu gerbang yang berbentuk kubah. Pinto khop ini juga adalah tempat beristirahat putri pahang jika telah selesai berenang, posisinya tak jauh dari gunongan. Nah, disanalah dayang-dayang membersihkan rambut permaisuri. Selain itu, di sana juga ada sebuah kolam yang dipakai permaisuri untuk mandi bunga
Pinto Khop
9.Makam Keluarga Kerajaan Aceh
Makam Kandang XII yang merupakan tempat peristirahatan terakhir para Raja Aceh terletak di Asrama Keuraton Keucamatan Baiturrahman, atau disisi Barat Pendopo Gubernur Aceh menjadi saksi atas kemegahan Kerajaan Aceh sejak zaman dahulu. Makam yang berada di samping Mesjid Al-Fitrah Asrama keuraton ini tidak jauh dari pusat kota, berjarak 500 meter dari Mesjid Raya Baiturrahman. Jalan ke sana bisa di tempuh melalui jalan kecil di samping tempat pembelanjaan Barata atau melalui jalan Perwira. Luas Makam Kandang XII sekitar 214 M2 serta mulai di pugar oleh pemerintah melalui proyek purbakala tahun 1978 M.
   Terdapat 12 Makam Sultan Aceh beserta keluarganya, tetapi hanya enam makam yang terdata dan ada keterangannya, sedangkan enam makam lagi tidak ada keterangannya tidak tahu mengapa demikian, diantaranya :Sultan Syamsu Syah memerintah tahun 1497-1514 Masehi, Sultan Ali Mughayat Syah memerintah tahun 1514-1530 Masehi, Sultan Salahuddin Ibnu Ali Mughayat Syah memerintah tahun 1530-1537 Masehi, Sultan Ali Riayat Syah Al-Qahar memerintah tahun 1537-1568 masehi, Sultan Husain Syah Ibnu Sultan Ali Riayat Syah Al-Qahar memerintah tahun 1568-1575 Masehi, Malikul Adil tahun 1641-1676 Masehi, hidup pada masa pemerintahan Ratu Tadjul Alam.

    Di Makam Kandang XII ini juga terdapat Makam Sultan Ali Mughayat Syah, yang merupakan Raja Aceh yang memerintah pada tahun 1514-1530. Sultan Ali Mughayat Syah berhasil mengusir Protugis di Selat Malaka yang hendak menyerang wilayah kekuasaan Aceh, Kerajaan Aru (Sumatera Timur), Pasai, Pedir, dan Daya hingga Barus (Tapanuli Tengah). Makam Kandang XII ini juga menjadi bukti sejarah bahwa Aceh pada zaman dahulu sudah kaya akan seninya. Terlihat jelas pada ukiran-ukiran Arab pada batu nisan tersebut, dengan nisan yang bertingkat-tingkat dan bentuk nisan yang beragam.
Disudut sebelah Barat Makam Kandang XII bertabur bunga melati yang indah, makam tersusun rapi dengan tiang penomoran disetiap Makamnya yang berjumlah 12 Makam. Makam Kandang XII juga terdapat atap-atap yang menutupi Makam sehingga tidak terkena hujan dan panas. Suasana disana sangat teduh dan nyaman.
Makam Raja-Raja Aceh Darussalam dan keluarga
Tidak jauh dari Makam Kandang XII, terdapat Kompleks Makam keluarga kerajaan Aceh. Makam Keluarga Kerajaan Aceh ini satu perkarangan dengan Makam Kandang Meuh dan Makam Sultan Iskandar Muda. Berdekatan juga dengan pendopo Gubernur Aceh dan Museum Aceh. Ada pun nama-nama keluarga kerajaan Aceh yang di makamkan disini yaitu : Pocut Rumoh Geudong / Meurah Limpah / Pocut Lam Seupeung / Isteri nomor tiga Ibu nomor delapan, Pocut Sri Banun anak nomor tiga, Sultan Alauddin Ibrahim Mansyur Syah (1836-1870), Sultan Alauddin Muhammad Syah (1781-1795) Merhom Geudong, Sultan Husin Jauhar Al-Alam Syah (1795-1824), Putro Bincu Ibu nomor lima, Tuanku Husin Pangeran Ahom nomor tiga (wakil kerajaan Aceh Deli), Tuanku Cut Zainal Abidin ayah dari Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah II (1874-1903), Teungku Chik kakak nomor tiga, sedangkan Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah Mangkat di Jakarta 6 Februari 1939 dalam internerling (pengasingan) oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Selanjutnya disamping Makam Keluarga Kerajaan terdapat Makam Kandang Meuh. Makam Kandang Meuh berdekatan dengan makam Sultan Iskandar Muda, yang terdapat pada komplek makam kandang meuh adalah makam sultan dan ulama, antara lain makam Sultan Mahmud Syah. Adapun yang dimakamkan dalam komplek kandang meuh, antara lain :Putri Raja anak Bangka Hulu, Sultan Alauddin MahmudSyah (1760-1764 M), Raja perempuan Darussalam, Tuanku Zainal Abidin dan keluarga Sultan lainnya. 

Jumlah makam yang ada dalam kompleks makam kandang meuh terdiri atas 10 buah, tipe makam yang ada menunjukkan 2 tipe nisan, serta makam semu dengan tipe lempengan batu segi empat, di bagian sisi makam tampak berpola hias kotak-kotak segi empat yang sudah di cat. Pada permukaan makam terdapat dua buah nisan yang di tancapkan dengan orientasi utara selatan. Secara keseluruhan dalam kompleks ini terdapat dua tipe nisan, Yang pertama bentuk nisan pipih penataan bahu, di bagian bawah nisan bentuk segi empat pola hias bunga lidah api, bagian badan makam terdapat sulur-sulur daun bunga lidah api, kotak-kotak segi empat bermotif belah ketupat saling kait mengkait dan di puncak nisan bentuk mahkota bersususn tiga. Bentuk nisan gada segi enam, di bagian bawah nisan bentuk segi empat pola hias bunga lidah api bagian badan nisan pola hias bunga lidah api bentuk belah ketupat saling kait mengkait, di bagian puncak nisan terdapat kuncup bunga teratai.
Makam Raja-Raja Aceh dan Keluarga

10.Mesjid Raya Labui
Mesjid Raya Labui terletak di Kecamatan Pidie merupakan salah satu masjid tua di Aceh yang menyimpan nilai sejarah. Salah satu peninggalan sejarah adalah mimbar dari kayu berukir berusia ratusan tahun hasil karya pengrajin Cina sekitar tahun 1612 M . Mesjid ini sebelum dinamakan sebagai Mesjid raya Labui diketahui bernama mesjid Po Teumeureuhom . Waktu itu Po Teumeureuhom, Sultan Iskandar Muda (1607-1636) bersama masyarakat membangun masjid tersebut secara bergotong royong. Masyarakat bersedia berdiri sekitar 30 kilometer untuk mengangkut batu secara estafet, dari Kecamatan Muara Tiga ke Labui. Po Teumeureuhom sempat mendatangkan arsitek dari Cina untuk membangun masjid yang kemudian dilestarikan menjadi cagar budaya

Masjid Raya Labui
11. Mesjid Madinah
Masjid Madinah namanya, dibangun oleh Tgk Japakeh pada tahun 1623 Masehi setelah kembali dari perang menyerang Portugis di Semenanjung Malaka. Ini merupakan salah satu masjid tertua dan bersejarah di Aceh. Masjid ini terletak di Gampong Dayah Kruet, Kemukiman Kuta Baroh, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Di dalam masjid tua ini sampai sekarang masih tersimpan peninggalan masa lalu berupa sebuah guci, mimbar dari Arab, dan dua buah batu yang sering digunakan Tgk Japakeh untuk prosesi penyumpahan bila ada orang yang bersengketa. Mimbar dalam Masjid Madinah merupakan mimbar yang dibuat di Madinah Al Munawarah, Arab Saudi. Mimbar itu dibawa pulang oleh Tgk Japakeh ketika beliau kembali dari naik haji ke Arab Saudi. Tengku japakeh sendiri salah salah satu penasehat militer sultan iskandar muda ketika melancarkan serangan ke benteng portugis di selat malaka. Adapun nama asli dari tengku japakeh adalah jalaludin hoca faqih, jadi kemudian masyarakat menyingkat nya menjadi Tengku japakeh. Ia merupakan salah satu keturunan dari tentara Turki yang datang ke Aceh.
Mesjid Raya Madinah

12.Masjid Sultan di Tepi Danau Laut Tawar Takengon
Ketika berada di pengasingan Gayo, Sultan Aceh Muhammad Daud Sjah sempat membagun masjid dengan konstruksi kayu terletak di tepi jalan dan tak jauh dari bibir danau Laut Tawar. Masjid sultan berdiding papan dengan satu kubah kecil. Dulu masjid itu menjadi satu-satunya masjid di sana. Jalan depan masjid menuju arah gua tempat tinggal sultan, diberinama Jalan Daulat Aceh. "Daulat" adalah sebutan Gayo untuk sultan Aceh. Selama berada di Tanah Gayo, Sultan mendapat pengawalan dan perlindungan dari para reje, pengulu, dan panglima - panglima Gayo.(sumber : Atjeh gallery)

Mesjid Sultan Daulat Takengon
13.Mesjid Tuha Pulo Kambing Aceh Selatan.
Mesjid Pulo Kambing atau sekarang biasa disebut dengan mesjid Nurul Huda. dibangun pada masa keujrun Teuku Aman syah, Mulai 28 Hari Bulan Ramadhan, Tahun 1282 H/1864 M. Mesjid tersebut terletak di Gampong Pulo Kameng, Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan. Imam Masjid ini pertama yaitu tengku haji ali basyah, bulan Rajab tahun /35/ ( salah satu tulisan yg terpahat di tiang masjid) Bukti Ontentik dari masjid tuha ini masih Terpahat jelas pada bagian tiang di dalam masjid, mulai dari nama imam masjid sampai dengan Keucik pada masanya. Semua tersebut dengan jelas beserta tahun kepemimpinannya.
 (sumber : Atjeh gallery)
MEsjid Tuha Pulo Kambing Aceh Selatan
14.Rumoh Aceh Teuku Ibrahim Bintara Pineung
Rumoh Aceh kediaman Teuku Ibrahim, seorang Bintara Pineung di zaman masa Kesultanan Aceh Darussalam. Rumah panggung ini terlihat sangat sederhana dan masih berdiri kokoh sampai sekarang. Rumah tersebut terletak di Gampong Dayah Bubue, Kec Peukan Baro. Rumoh Aceh ini diperkuat oleh 24 tiang (tameh) yang sangat kuat. Atapnya sebelum di ganti  dengan seng menggunakan atap daun nipah, yang membedakan dengan rumoh Aceh lainnya, pada bagian belakangnya terdapat rumoh miyub (bawah),yang berbentuk seperti rumah Eropa dan berlantai marmer. Tidak ketinggalan pula pada setiap dinding Rumoh Aceh kediaman Bintara Pineng ini dipercantik dengan hiasan ukiran-ukiran di sekelilingnya. (sumber :instagram  Atjeh gallery/acehinfo)

Rumah Teuku Bintara Pineung
15.Mesjid Tengku di Pucok Krueng Beuracan
Mesjid Tengku di Pucok Krueng Beuracan, kecamatan Meureudu, Pidie jaya atau yang lebih dikenal sebagai Mesjid Beuracan adalah salah satu dari sekian banyak mesjid bersejarah di kabupaten Pidie jaya. Menurut informasi Mesjid ini dibangun oleh Tgk. Abdussalim pada tahun 1626 M , atau lebih tepatnya selama masa pemerintahan Sultan Iskandar muda memerintah kerajaan Aceh Darussalam.
MASJID TENGKU DI PUCOK


referensi :

3 Responses to "15 Bangunan Peninggalan Kesultanan Aceh"

  1. Ternyata banyak juga benteng peninggalan sejarah di Aceh.
    Sayangnya terlihat seperti kurang perawatan makdimal, ya.

    Sekilas dilihat bangunan Gunongan nyaris ada kemiripan dengan arsitektur Taman Sari, Yogyakarta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar sekali disebabkan oleh kurang nya kesadaran maasyarakat dalam merawat benda-benda bersejarah....

      Delete
  2. Keren infonya gan

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel